Home » Hubungan, Motivasi, Pengembangan Diri

Reflection Story Of Our Life

24 August 2008 226 views No Comment
” …Permennya Lupa Dimakan…”

Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang
melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak
yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama.

Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen
lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat
seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk
mengambil dan menikmati kelezatan mereka.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa
diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia
mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat
sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop
yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen
tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia
memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia
melihat gerbang bertuliskan “Selamat Jalan”. Itulah batas akhir lembah
permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk
sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, “Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen
lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang
rasa jeruk?

Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa
mangga? Itu juga sangat lezat.” Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi.
Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat
danmembawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas
karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia
pun menjawab pertanyaan lelaki itu, “Permennya saya lupa makan!”

Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen
lolipop.”Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu
tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya.” “Kenapa kamu memanggil saya?”
tanya Bob.”Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama.
Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah
sekali!” Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. “Lalu tadi ada seorang kakek
tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa
permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak
menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama.” Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia
lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk
mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak
punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan
semua permen itu ke dalam tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari
suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, “Perjalanan ini bukan tentang
berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya
menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia.” Ia pun berkata dalam
hati,
“Waktu tidak bisa diputar kembali.” Perjalanan di lembah lolipop
sudahberlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu
saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita
menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi
lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

Pernahkah Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia?
Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka
menjawab,
“Saya akan bahagia nanti… nanti pada waktu saya sudah
menikah…

nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri…
nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya…
nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya…
nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar… ”

Pemikiran ‘nanti’ itu membuat kita bekerja sangat keras di saat
’sekarang’.
Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan
tentang masa ‘nanti’ bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut,
ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa
‘nanti’ bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya
tidak pernah sampai di masa ‘nanti’ bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat…
target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita
sendirilah yang membuat semua target itu… tetap semuanya itu tidak pernah
terasa memuaskan dan membahagiakan.

Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita;
pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan,
pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita,
pada saat makan malam bersama keluarga,
pada saat kita duduk bermeditasi atau
pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih
indah.

Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh
kesadaran;
memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan
menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa
indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan
menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri.

Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh
lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih
bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah
permen lolipop.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.