Penyembuhan Alami »

3 Macam Pernapasan Penghilang Stress…..
[2 Sep 2010 | No Comment | 908 views]

Ada tiga macam cara pernapasan yang tepat dan dapat Anda latih dengan baik yang akan langsung menghancurkan stress Anda, bahkan dapat mendorong semangat dan membuat Anda lebih rileks.

1. Napas Stimulasi (disebut juga Napas Kipas Perapian)Napas ini diadaptasi dari teknik pernapasan para praktisi Yoga, dengan tujuan meningkatkan energi vital dan membuat Anda semakin peka dan tanggap terhadap sekitar Anda.

a. Tarik dan buang napas secepat mungkin melalui hidung Anda, tutup mulut Anda, tapi pertahankan tetap rileks. Tarikan dan buangan napas Anda singkat saja, dan usahakan dilakukan dalam durasi yang sama. Pendek-pendek saja dan sesingkat mungkin!

b. Dalam satu detik, usahakan lakukan tiga kali tarikan dan buangan napas. Cara ini akan membuat otot diafragma (bagian atas perut) akan bergerak, dengan gerakan seperti kipas perapian. Setelah satu siklus tiga kali napas dan tiga kali buang, bernapaslah seperti biasa.

c. Pada percobaan pertama, jangan paksakan diri Anda lebih dari 15 detik, dan setiap Anda berlatih, coba perpanjang waktu latihan Anda sebanyak 5 detik sampai akhirnya Anda dapat melakukan pernapasan ini selama satu menit penuh.

2. Napas 4-7-8 (disebut juga Napas Relaksasi)Latihan sederhana yang tidak membutuhkan usaha besar. Anda dapat berada dalam posisi apapun, duduk, telentang, bersila, atau apapun, tapi selama Anda belajar, coba duduk dengan punggung tegak. Letakkan ujung lidah di langit-langit mulut, dan pertahankan lidah Anda berada di titik tersebut selama latihan. Anda akan berlatih untuk bernapas melalui mulut Anda dan sekitar lidah, jika Anda merasa tampak aneh, maka coba buat posisi mulut Anda sedikit cemberut pada saat berlatih.

a. Buang napas sepenuhnya dari mulut, jangan malu untuk bersuara

b. Tutup mulut dan tarik napas tanpa suara dari hidung dan hitung dalam hati sampai empat

c. Tahan napas dan hitung sampai tujuh.

d. Buang napas sepenuhnya dari mulut, jangan malu untuk bersuara dan hitung sampai delapan.

e. Ini adalah satu siklus napas, dan ulangi a sampai d tiga kali lagi, jadi Anda melakukan total empat kali siklus napas.Perhatikan, bahwa tarikan napas adalah perlahan-lahan melalui hidung dan hembusan napas keluar selalu bersuara dari mulut. Ingat juga bahwa ujung lidah Anda tidak boleh turun dari langit-langit. Anda bisa menghabiskan waktu yang berbeda untuk satu siklus, tapi rasio 4:7:8 harus tetap dipertahankan. Usahakan semakin lama waktu dalam satu siklus yang ada semakin panjang.Selama sebulan pertama, lakukan maksimal 4 siklus, lakukan perlahan-lahan sampai pada delapan siklus. Awalnya mungkin Anda akan terasa pusing, tapi makin lama pusing ini akan segera hilang.

3. Hitung NapasJika Anda merasa kewalahan akibat tugas atau pekerjaan, coba lakukan hitung napas ini, teknis sederhana yang sangat efektif dan sering dilakukan oleh praktisi Zen.Duduklah dalam posisi yang rileks, dengan tulang punggung tegak dan kepala agak ke depan. Tutup mata dengan lembut dan tarik napas dalam-dalam. Tarik dan buang napas secara alami dan ikuti saja ritme tubuh. Biasanya ritme napas ini akan jadi tenang dan lamban, tapi ritme dan dalamnya pernapasan biasanya berbeda dari satu saat ke saat berikutnya.

a. Hitung ‘Satu’ pada saat membuang napas.

b. hitung ‘dua’ dan seterusnya setiap kali membuang napas, sampai ke ‘lima’

c. Hitung kembali ’satu’ pada saat Anda membuang napas.

Jangan pernah lebih tinggi dari lima hitungan. Ingat, begitu Anda kehilangan konsentrasi, Anda bisa dengan mudah berada di angka delapan, atau bahkan duabelas atau malah dua puluh. Sekali lagi yang Anda hitung adalah buangan napas Anda. Coba lakukan latihan ini selama 10 menit sebagai sarana meditasi. Anda akan kembali merasa segar kembali!

Daniel’s Mind Therapy

081321528868

PIN BB: 22486891

YM/ email : danielar125@yahoo.com

Hubungan, Motivasi »

Haruskah Hati menciptakan Jarak?
[21 Feb 2010 | 2 Comments | 452 views]

swift-crop.jpgSuatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, “Mengapa ketika
seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat
atau berteriak?”

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab,
“Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu
berteriak.”
“Tapi…” sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada di
sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara
halus?”

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut
pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan. Sang guru
lalu berkata, “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan,
jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka
begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka
harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak,
Read the full story »