Home » Pengembangan Diri

Think Twice Before You Act…..

19 December 2009 98 views No Comment

Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa   jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu,ia membeli buku dan   sekantong kue di toko bandara lalu menemukan tempat untuk duduk.

Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam  keasyikannya tersebut ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani  mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka.

Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia  membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang  pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit  berlalu. Wanita itupun sempat berpikir: (”Kalau aku bukan orang baik sudah
kutonjok dia!”) Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu.

Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan  lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki  mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue  itu dan berpikir (”Ya ampun orang ini berani sekali”), dan ia juga kasar  malah ia tidak kelihatan berterima kasih.

Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si “Pencuri tak tahu terimakasih! “.

Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir  selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget.   Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya. Koq milikku ada di sini  erangnya dengan patah hati. Jadi kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba  berbagi. Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya  dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah pencuri kue itu.

Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri (subjektif)   serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.

Orang lainlah yang selalu salah, orang lainlah yang patut disingkirkan, orang lainlah yang tak tahu diri, orang lainlah yang berdosa, orang lainlah  yang selalu bikin masalah orang lainlah yang pantas diberi pelajaran.

Padahal kita sendiri yang mencuri kue tadi, padahal kita sendiri yang tidak tahu terimakasih.  Kita sering mempengaruhi, mengomentari, mencemooh pendapat, penilaian atau  gagasan orang lain sementara sebetulnya kita tidak tahu betul  permasalahannya.

Semoga bermanfaat

Best Regard

Daniel’s Mind Therapy

http://www.danielaries.com

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.